03 April 2013

_Kenapa Pria diharamkan memakai emas_

Inilah tinjauan ilmiah atau analisa medisnya.. Para ahli fisika telah menyimpulkan bahwa atom pada emas mampu menembus ke dalam kulit dan masuk ke dalam darah manusia, dan jika kita ( pria ) mengenakan emas dalam jumlah tertentu dan dalam jangka waktu yang lama, maka dampak yang ditimbulkan yaitu di dalam darah dan urine akan mengandung atom emas dalam prosentase yang melebihi batas ( diikenal dengan sebutan " Migrasi Emas " )

Dan apabila ini terjadi, maka akan mengakibatkan penyakit Alzheimer. Alzheimer adalah suatu penyakit dimana orang tersebut kehilangan semua kemampuan mental dan fisik serta menyebabkan kembali seperti anak kecil. Alzheimer bukan penuaan normal, tetapi merupakan penuaan paksaan atau terpaksa. Dan mengapa Islam membolehkan wanita untuk mengenakan emas ? Wanita tidak menderita masalah ini karena setiap bulan, partikel berbahaya tersebut keluar dari tubuh wanita melalui menstruasi.

Ternyata Islam begitu hebat !. Dilarang oleh Rasulullah ternyata karena ada dampak negatif. Padahal dulu, 1400 tahun yang lalu, belum ada para ahli fisika, tetapi Rasulullah sudah tahu. Wallahu a'lam.
Baca Selengkapnya...

01 April 2013

_ Ibnu Taimiyah _

Dia bernama Majdu Ad-Din Abu Al Barakat Abdu As- Salam bin Abdullah bin Al Khadhir Al Harrani bin Taimiyah. Dia adalah seorang imam, ahli fikih dan merupakan syaikh madzhab Hanbali. 
Dia lahir pada tahun 509 H.
Dia adalah sosok yang cakap, jenius dan luas pemahamannya. Dia menulis banyak buku dan sastra, menguasai ilmu Qira’ah Sab’ah serta referensi bagi para ulama fikih.
Aku mendengar syaikh Taqiyuddin Abu Al Abbas berkata, “Syaikh Jamaluddin bin Malik berkata, Allah SWT memudahkan ilmu fikih bagi syaikh Majd ini sebagaimana Dia melunakkan besi bagi Nabi Daud AS. Syaikh melanjutkan, kakekku adalah sosok yang memiliki kecerdasan yang luar biasa.”
Al Burhaan Al Maraghi menceritakan bahwa dia pernah bertemu dengan syaikh Al Majd. Kemudian, dia menanyakan satu masalah. syaikh menjawab, “Masalah itu dapat dijawab melalui 60 sudut pandang. Yang pertama begini, yang kedua begini dan begitu seterusnya sehingga sampai yang keenam puluh. Lalu dia berkata, aku memberimu kebebasan untuk berdiskusi atas jawaban-jawabanku tadi.” Maka Al Burhan pun akhirnya tertunduk dan menghormati syaikh.
Syaikh Taqiyuddin berkata, “Aku bangga dengan kakekku, dia mampu mengahafal teks-teks buku dan beberapa madzhab yang ada pada saat itu. Dia juga mampu menjabarkan semua itu tanpa mengalami kesulitan sedikitpun.”
Imam Abdullah bin Taimiyah menceritakan bahwa kakeknya tumbuh dalam keadaan yatim. Kemudian, dia pergi menyertai anak pamannya ke Irak. Saat itu, dia berumur 13 tahun dia menginap dan mendengar anak pamannya itu mengulang-ulang banyak masalah tentang perbedaan madzhab. kemudian, dia menghafal semua yang didengarnya itu. Suatu hari Al Fakhr Isma’il berkata, “Apa yang dimiliki oleh anak kecil sesperti ini?” Maka Al Majd kecil pun bergegas dan berkata “Syaikh, aku sudah hafal pelajaran ini.” Kemudian, dia mulai memperdengarkannya. Syaikh sendiri akhirnya tertunduk dan mengakui kecerdasannya. Dia berkata, “Sungguh anak kecil ini kelak menjadi pembaharu Islam.”
Dia tinggal di Baghdad selama 6 tahun hanya untuk  menuntut illmu. Kemudian, dia kembali lagi ke kampungnya. Setelah itu, Dia berangkat yang kedua kalinya ke Baghdad. Hal ini dilakukan sebelum tahun 620 H. Di kota ini dia menghabiskan waktunya untuk menambah ilmu dan menulis beberapa kitab. Pekerjaan ini dia lakukan atas dorongan takwa, mengikuti sunnah dan keagungan ilmu.
Dia meninggal dunia di Harraan pada tahun 652 H.
Baca Selengkapnya...

31 Maret 2013

_ Penuhkah Cangkirmu _

Seorang raja yang bijak karena tenggelam dalam kesibukan membangun negerinya, ia tak sempat memperhatikan putera mahkota. Maka, permaisurilah yang diberi tanggung jawab mendidiknya. Karena sang pangeran adalah anak tunggal, permaisuri jadi terlalu memanjakannya. Sang pangeran tumbuh menjadi pemuda yang sombong, egois, tidak punya sopan santun dan malas belajar. 

Raja menjadi sedih memikirkan sikap puteranya dan nasib negerinya nanti. Akhirnya setelah berbincang-bincang dengan permaisuri, raja memanggil pangeran dan mengutusnya belajar selama satu tahun bersama seorang guru yang bijaksana di sebuah padepokan. Setibanya di sana dan menemui sang guru, pangeran langsung berulah. Ia menunjukkan sikap yang sombong, menyebalkan, dan sangat tidak sopan. Kalau sang guru bertanya, pangeran menjawab sekehendak hatinya. Kalau sang guru menerangkan pelajaran, pangeran tidak mau mendengarkan, malah sibuk bermain-main sendiri. Ia benar-benar bertingkah semaunya dan tak mau hormat sedikit pun pada sang guru. Hari demi hari berlalu. Namun kelakuannya tetap tidak berubah. Sombong, sok pinter dan tidak mau menyerap ilmu yang diberikan kepadanya.

Sang guru pun berpikir keras bagaimana mengajak pangeran supaya berubah menjadi baik dan rendah hati. Suatu hari sang guru mengajaknya minum teh bersama. Sang guru menuangkan air teh panas ke cangkir pangeran. Air teh panas itu ia tungkan terus menerus hingga tumpah kemana-mana. Sebagian tumpahannya mengenai tangan sang pangeran. Ia kepanasan lalu meloncat sambil marah-marah. “Hai guru bodoh! Menuang teh saja tidak becus, bagaimana kamu akan mengajar ilmu kepadaku? Mengapa cangkir sudah penuh masih dituang air teh terus?” umpat sang pangeran. Dengan senyum lembut sang guru berujar, “Engkau beruntung hanya tangan yang terkena percikan teh panas. Saya sengaja menuang air teh terus menerus sekalipun cangkir itu sudah penuh karena saya ingin mengingatkanmu bahwa cangkir itu sama dengan otak manusia. Bila kau membiarkan cangkir itu tetap penuh, maka tak mungkin diisi lagi, bukan? Mungkin itulah sebabnya pikiranmu tidak bisa menerima kehadiran Tuhan dan diisi dengan hal-hal yang baik, karena kau membiarkan pikiranmu dipenuhi oleh sikap sombong dan tinggi hati.
Baca Selengkapnya...

_Berkah atau Musibah_

Pernah ada seorang tua yang hidup di desa kecil. Meskipun ia miskin, semua orang cemburu kepadanya karena ia memiliki kuda putih cantik. Bahkan raja menginginkan hartanya itu. Kuda seperti itu belum pernah dilihat orang, begitu gagah, anggun dan kuat.

Orang-orang menawarkan harga amat tinggi untuk kuda jantan itu, tetapi orang tua itu selalu menolak,

"bagi saya, kuda ini bukanlah kuda," katanya.
"Ia adalah seperti seseorang. Bagaimana kita dapat menjual seseorang.
Ia adalah sahabat. Bagaimana kita dapat menjual seorang sahabat ?"

Orangtua itu miskin dan selalu mendapat godaan besar. Tetapi ia tidak mau menjual kuda itu.

Suatu pagi, ia menemukan bahwa kuda itu tidak ada di kandangnya. orang-orang desa datang menemuinya.

"Orang tua bodoh," mereka mengejeknya.
"Sudah kami katakan bahwa seseorang akan mencuri kuda Anda. Kami peringatkan bahwa Anda akan dirampok. Anda begitu miskin. Mana mungkin Anda dapat melindungi binatang yang begitu berharga? Sebaiknya Anda menjualnya. Anda boleh minta harga berapa saja. Harga setinggi apapun akan dibayar juga. Sekarang kuda itu hilang dan Anda ditimpa oleh kemalangan."

Orang tua itu menjawab,
"Jangan bicara terlalu cepat. Katakan saja bahwa kuda itu tidak berada di kandangnya. Itu saja yang kita tahu.
Apakah hanya karena kuda saya tidak ada di kandangnya lalu kalian bilang bahwa saya telah mendapat musibah? bagaimana Anda dapat ketahui itu? Bagaimana Anda dapat menghakimi ?"

Orang-orang desa itu protes,
"Jangan menggambarkan kami sebagai orang bodoh! Mungkin kami bukan ahli filsafat, tetapi filsafat hebat tidak diperlukan. Fakta sederhana bahwa kuda Anda hilang adalah musibah."

Orang tua itu tersenyum dan berbicara lagi,
"Yang saya tahu hanyalah bahwa kandang itu kosong dan kuda itu pergi. Selebihnya saya tidak tahu. Apakah itu musibah atau berkah, saya tidak dapat katakan. Yang dapat kita lihat hanyalah sepotong saja. Siapa tahu apa yang akan terjadi nanti ?"

Orang-orang desa tertawa. Menurut mereka orang itu gila. Mereka memang selalu menganggap dia orang tolol. Kalau tidak, ia akan menjual kuda itu dan hidup dari uang yang diterimanya. Sebaliknya, ia seorang tukang potong kayu miskin, orang tua yang memotong kayu bakar dan menariknya keluar hutan lalu menjualnya. Uang yang ia terima hanya cukup untuk membeli makanan, tidak lebih. Hidupnya sengsara sekali. Sekarang ia sudah membuktikan bahwa ia betul-betul tolol.

***************
lima belas hari kemudian.....

Kuda itu kembali. Ia tidak dicuri, ia hanya lari ke dalam hutan. Ia tidak hanya kembali, ia juga membawa sekitar selusin kuda liar bersamanya. Sekali lagi penduduk desa berkumpul di sekeliling tukang potong kayu itu dan mengatakan,

"Orang tua, kamu benar dan kami salah. Yang kami anggap musibah ternyata adalah berkah. Maafkan kami." kata salah seorang penduduk desa,

"Sekali lagi kalian bertindak gegabah. Katakan saja bahwa kuda itu sudah kembali. Katakan saja bahwa selusin kuda kembali bersama dia. Bagaimana kalian tahu bahwa ini adalah berkah? Anda hanya melihat sepotong saja. Kecuali kalau kalian sudah mengetahui seluruh cerita, bagaimana Anda dapat menilai? Kalian hanya membaca satu halaman dari sebuah buku. Dapatkah kalian menilai seluruh buku? Kalian hanya membaca satu kata dari sebuah ungkapan. Apakah kalian dapat mengerti seluruh ungkapan? Hidup ini begitu luas, namun Anda menilai seluruh hidup berdasarkan satu halaman atau satu kata. Yang Anda tahu hanyalah sepotong dan janganlah terganggu dengan apa yang kalian tidak tahu."

"Barangkali orang tua itu benar," mereka berkata satu sama lain.

Jadi mereka tidak banyak berkata-kata. Tetapi di dalam hati mereka tahu ia salah. Mereka tahu itu adalah berkah. Dua belas kuda liar pulang bersama satu kuda. Dengan kerja sedikit, binatang itu dapat dijinakkan dan dilatih, kemudian dijual untuk banyak uang.

Orang tua itu mempunyai seorang anak laki-laki. Anak muda itu mulai menjinakkan kuda-kuda liar itu. Setelah beberapa hari, ia terjatuh dari salah satu kuda dan kedua kakinya patah. Sekali lagi orang desa berkumpul di sekitar orang tua itu dan menilai.

"Anda benar," kata mereka.

"Anda sudah buktikan bahwa Anda benar. Selusin kuda itu bukan berkah. Mereka adalah musibah. Satu-satunya puteramu patah kedua kakinya dan sekarang dalam usia tua Anda tidak punya siapa-siapa untuk membantu Anda. Sekarang Anda lebih miskin lagi."

Orang tua itu berkata,

"Tidak perlu berpikir seburuk itu. Katakan saja bahwa anak saya patah kaki. Siapa tahu itu berkah atau musibah? Tidak ada yang tahu. Kita hanya mempunyai sepotong cerita. Hidup ini datang sepotong-sepotong."

Maka dua minggu kemudian negeri itu berperang dengan negeri tetangga. Semua anak muda di desa diminta untuk menjadi tentara. Hanya anak si orang tua itu yang tidak diminta karena ia terluka. Sekali lagi orang berkumpul sekitar orang tua itu sambil menangis dan berteriak karena anak-anak mereka sudah dipanggil untuk bertempur. Sedikit sekali kemungkinan mereka akan kembali. Musuh sangat kuat dan perang itu akan dimenangkan musuh. Mereka tidak akan melihat anak-anak mereka kembali.

"Anda benar, orang tua!" mereka menangis.

"Tuhan tahu, Anda benar. Ini buktinya. Kecelakaan anakmu merupakan berkah. Kakinya patah, tetapi paling tidak ia ada bersamamu. Anak-anak kami pergi untuk selama-lamanya."

Orang tua itu berujar,

"Kalian selalu menarik kesimpulan sendiri. Tidak ada yang tahu. Katakan hanya ini, anak-anak kalian harus pergi berperang, dan anak saya tidak. Tidak ada yang tahu apakah itu berkah atau musibah. Tidak ada yang cukup bijaksana untuk mengetahui. Hanya Allah yang tahu."
Baca Selengkapnya...

Jika saja bukan karena keridhaan-Mu, Apa yang dapat dilakukan oleh manusia yang seperti debu ini dengan Cinta-Mu? #Izza Rupaida Febriani#