Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

01 April 2012

::_Madrasah Cinta_::


Hari itu begitu cerah menyelimuti seantero kota Bandung. Angin berhembus begitu dinginnya menusuk tulang. Aku pun terbangun oleh dinginnya cuaca, ah.. gumamku kemudian bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badanku yang agak bau apek. Setelah mandi dan menggosok gigi akupun berwudhu untuk menunaikan kewajiban shalat shubuh berjamaah di mesjid.

Tak berapa lama terdengarlah panggilan adzan dari mesjid yang tak jauh dari rumahku, aku seperti biasa sebelum pergi ke mesjid melaksanakan shalat sunat qobla shubuh di rumah, kemudian kubuka pintu rumah krek…dan terasa ser… ser…angin pagi berhembus menyelimuti tubuhku begitu dinginnya, enggan rasanya aku untuk melanjutkan pergi ke mesjid waktu itu. Ku paksakan diriku untuk pergi ke mesjid, dengan langkah yang agak cepat karena takut kehilangan shaf paling depan yang kata ustadz itu adalah shaf yang paling baik bagi seorang laki-laki.
Sampai di mesjid aku melihat jamaah yang sudah berkumpul menunggu ustadz yang belum selesai dari shalat sunatnya. Tak berapa lama iqomat dikumandangkan oleh muadzin, kami pun melaksanakan shalat shubuh. Setelah selesai melaksanakan shalat shubuh, seperti biasa aku , Firman, Asep, Eri, dan Yadi suka mengikuti pengajian shubuh bersama bapak-bapak dan ibu-ibu di mesjid yang dipimpin oleh ustadz Suryana.

Aku duduk berdampingan dengan Firman, seperti biasa aku suka sedikit ngobrol dengan dia kalau yang giliran baca orang lain. Aku menyapa Firman waktu itu : “Fir ayeuna rek lari moal beres ngaji ?” (Fir mau lari gak sesudah selesai mengaji)
“Hayu lah poe ieu euweuh kuliah da” jawab Firman. (Oke hari ini gak ada kuliah kok)

waktu satu jam tak terasa sudah berlalu dan pengajian pun selesai, aku, Firman , Asep, Eri dan Yadi berpamitan kepada pa Ustadz untuk pulang duluan. “Er ikut gak kita mau lari nih ?” tanya ku pada Eri.” Kemana gitu larinya?” tanya Eri, “ Ya seperti biasa kita keliling ke jalan Lingkar Selatan “ jawabku.

Kami pun berpisah menuju rumah masing-masing untuk mempersiapkan lari pagi. Aku coba meminta ijin pada kedua orang tuaku untuk lari pagi waktu itu,
“Emang mau lari kemana Rizal?” tanya ibuku dengan nada yang begitu lembut , “ya Seperti biasa Ma, keliling Lingkar selatan bersama teman pengajian” jawabku, “Ya boleh, tapi sepulang dari lari kamu harus bantu Bapak belanja ke pasar”. ibuku menimpali. “ Ya… Ma”.

Setelah mendapat ijin dari ibu aku pun pergi menuju rumah Firman dan Eri , dan ternyata mereka sudah siap di depan rumah Firman. Kami pun berangkat menuju jalanan, sampai di ujung gang aku melihat Cucu sedang menunggu angkutan kota hendak pergi ke sekolah. Aku bergumam dalam hatiku “Duh.. Cucu anggun sekali, wajahnya yang putih bagai salju begitu pas dengan memakai jibab warna putih”. Aku tidak sadar kalau Firman dan Eri memperhatikanku. “ Hey titatadi merhatikeun si Cucu we, rek lari moal?” tanya Firman (Dari tadi memperhatikan Cucu, Mau lari ga) “ Oh ya mau atuh, kirain tidak memperhatikanku” sambil merah wajahku karena malu.

Sambil lari aku masih membayangkan begitu anggunnya Cucu memakai jilbab, mungkin inilah pandangan pertama yang membuat jantung ini berdetak, pikiran melayang dan hati terasa berbunga, padahal aku sering bertemu dengan Cucu, tapi baru kali ini ada perasaan yang beda di hatiku. Ya… Cucu adalah teman pengajian di madrasah, selain itu masih ada ikatan saudara yang agak jauh dari Bapakku. Lari pagi yang begitu jauh hari itu agak tidak terasa capeknya, aku pun berkelakar “ wah… hari ini rasanya gak terlalu capek nih” “ bagaimana bisa capek kalau larinya sambil melamun “ jawab Eri dengan nada menyindir.

Duh aku jadi malu juga nih ternyata sepanjang jalan tadi mereka memperhatikanku. Di perempatan jalan kami pun berpisah menuju rumah masing-masing. Sampai di rumah aku sedikit tersenyum-senyum, indah rasanya pagi hari itu seolah-olah ingin terbang, sehingga mengundang perhatian ibuku “kenapa kamu kok lain dari biasanya “ “ Yah begitu deh… hari ini rasanya bumi ini harum sekali “ jawab ku sambil menuju kamar mandi untuk membersihkan badanku yang bau karena keringat.

Waktu itu hari tak terasa sudah hampir maghrib, aku seperti biasa mempersiapkan untuk shalat maghrib berjamaah dimesjid, sayup-sayup terdengar adzan berkumandang dari mesjid. Aku pun sambil membawa buku dan kitab pergi ke mesjid ,karena setelah selesai shalat maghrib, aku dan teman-temanku suka mengikuti pengajian di madrasah bersama remaja yang lain. Setelah selesai shalat maghrib kami pun pergi ke madrasah yang letaknya tidak jauh dari mesjid. Kebetulan waktu itu aku dan Firman datang lebih dulu, “Zal kamu suka yah sama Cucu” tanya Firman ,Aku agak bingung juga menjawab pertanyaan dari Firman kalau dibilang ya aku takut firman menyebarkan ke yang lain maklum ini kan tempat pengajian bukan di kuliahan,tapi kalau aku jawab engga aku emang suka pada Cucu semenjak tadi pagi melihatnya berangkat ke sekolah.

“Hey… kok melamun ditanya teh “ Firman kembali berkata padaku. “Duh ..bingung Fir entah kenapa hatiku agak dag dig dug “ jawabku

“ Yah kalau kau memang suka sama Cucu, tembak saja toh kelihatannya Cucu juga suka sama kamu” sahut Firman.

Mendengar ucapan itu hatiku berbunga , jantung ini terasa diam sejenak karena aku mendapat dukungan dari sahabat karibku. Ketika aku ngobrol datanglah Cucu dengan temannya. Dug… jantungku berdetak kencang melihat Cucu begitu anggun dengan jilbabnya dan duduk disebelah kananku. Tak berapa lama ustadz Suryana datang sambil membawa kitab, kemudian beliau memberikan salam dan memulai pelajaran. Ya.. harus aku akui malam itu hatiku terasa melayang entah kemana , sambil memperhatikan ustadz sekali-kali aku menoleh ke arah Cucu, dan saat itu juga ternyata Cucu memandangku, aku jadi malu dan tak kuasa menahan hati ini.

Pengajian bubar pada jam sembilan malam, kami pun meninggalkan madrasah, sambil berjalan aku coba memberanikan diri untuk mengajak Cucu ngobrol, maklum lah…pa Ustadz sudah pulang terlebih dahulu, jadi aku engga malu untuk mengajak ngobrol Cucu.

Cucu rumahnya tidak terlalu jauh dari mesjid, sambil pulang aku ngobrol dengan Cucu perihal sekolahnya. Yah inilah mungkin caraku untuk bisa mendekati Cucu, malam itu juga Cucu meminjam buku catatan pengajian padaku. Aku agak heran kenapa kok Cucu pinjam catatan padaku padahal dia lebih rajin daripada aku.

Kami pun bubar menuju rumah masing-masing, malam yang dingin dan bintang yang bersinar menjadi saksi kegembiraanku saat itu. Sesampainya di rumah aku tersenyum sendirian. “Inikah yang dinamakan cinta” gumamku. Ya.. harus ku akui ini adalah pertama kali aku merasakan jatuh cinta. yang sering orang bilang berjuta rasanya. Aku pun menuju tempat tidur ku untuk istirahat, kurebahkan badan sambil memandang langit-langit rumah. Aku pun tertidur lelap, mungkin setelah seharian penuh menjalani rutinitasku sebagai mahasiswa semester 2 di sebuah perguruan tinggi di Bandung dan sambil membantu ayahku berjualan.

Kring… suara weker begitu nyaring, Ah… aku terbangun dari tidurku shubuh itu, “aduh aku kesiangan nih jangan-jangan aku engga sempat bertemu dengan Cucu di depan rumahnya” dengan lari terpontang panting aku langsung menuju kamar mandi. aku dan Cucu sering bertemu kalau aku mau pergi shalat shubuh ke mesjid, Cucu suka membersihkan teras rumahnya dan menyiram bunga-bunga di depan rumahnya. Mungkin inilah percikan-percikan cinta yang saat ini sedang menggelora dalam jiwa kami. Inilah pertemuan kami selain di madrasah, karena kalau di madrasah kami suka malu kalau ngobrol atau berpandangan. Aku sadar bahwa Islam tidak memperbolehkan untuk pacaran, makanya aku sedikit gemetar dan agak mengigil kalau sedang ngobrol dengan Cucu. Tapi darah muda yang mengalir pada diriku membuat aku agak berani untuk mengajak Cucu ngobrol.

Pada suatu pagi aku mencoba memberanikan diri akan mengantar Cucu pergi ke sekolah. Di jalan yang seperti biasa Cucu menunggu angkot aku sudah berdiri disana dengan membawa motor kesayanganku. Tak berapa lama Cucu datang dan tersenyum padaku, indah , manja membuat aku tak berani memandangnya lama-lama. Waktu itu aku tidak janjian dulu pada Cucu untuk mengantarnya, sehingga Cucu hanya tersenyum dan menunggu angkutan kota yang lewat. Jantungku berdetak kencang dan darahku terasa mengalir begitu derasnya antara mengantar Cucu atau jangan, perasaanku tidak enak waktu itu aku seperti kehilangan keberanianku untuk mengantarnya, tapi heran… Cucu pun belum juga mendapatkan angkutan kota yang akan mengantarnya ke sekolah. Hatiku bergumam mungkin Cucu juga sama perasaannya denganku, dia ingin aku mengantarnya tapi ia malu untuk bicara.

Cukup lama juga aku merasakan perasaan itu, setelah aku berpikir panjang aku pun memberanikan diri untuk mengantarnya pergi ke sekolah, “Cu mau ku antar ke sekolah ga?” tanyaku dengan sedikit terbata-bata dan malu, maklum baru pertama kali aku merasakan perasaan seperti ini. “emang kang Rizal tidak keberatan gitu” jawab Cucu begitu merdunya, suaranya membuat hatiku semakin galau waktu itu. “engga kok “jawabku sambil menyiapkan motor kesayanganku.

Cucu pun naik sepeda motorku, dag… dig… dug… jantungku semakin kencang berdetak tatkala motor yang ku kendarai mulai berjalan dan Cucu menggandengkan tangannya. Perjalanan yang cukup jauh tak terasa, akhirnya aku sampai juga mengantar Cucu ke sekolahnya, dalam hatiku ingin rasanya aku menyatakan cintaku padanya. Tanpa sadar akupun berjanji pada Cucu untuk menjemputnya pulang sekolah nanti, bagai pucuk ulam pun tiba ternyata Cucu mau. Ah… sungguh pagi itu dunia serasa menjadi milikku.

Di perjalanan pulang pikiranku melayang, terbang menuju awan. Terpikir dalam hatiku untuk membeli suatu cindramata untuk kuberikan pada Cucu pulang sekolah nanti, tanpa berpikir panjang aku langsung menuju sebuah swalayan yang kebetulan sudah buka pada pagi hari. Aku masuk mencari sesuatu yang agak unik untuk kuberikan pada sang pujaan, mataku berkeliling seperti orang yang kebingungan, sampai-sampai seorang pelayan bertanya kepadaku “ mau beli apa kang?” sahutnya, “oh ini mencari sesuatu yang agak unik untuk seseorang “ jawabku tersipu malu. “ oh.. kalau itu, adanya di sebelah sana kang” sahut pelayan tersebut sambil menunjukkan dengan jarinya ke arah sebuah rak. Akupun bergegas dengan cepat menuju rak tersebut. Terlihat berbagai kerajinan tangan ada di rak tersebut, mataku tertuju pada sebuah mainan yang terbuat dari nikel, lucu kelihatannya hadiah untuk sang pujaan.

Akupun segera mengambil mainan tersebut dan membayarnya di kasir. Setelah itu aku pulang ke rumah, karena tadi bapakku mengajakku untuk berbelanja ke pasar. Sampai di rumah ibu bertanya “Dari mana saja Zal? Pagi-pagi sudah keluyuran” “anu Ma… mengantar teman “ sahutku dengan nada yang terbata-bata, rupanya ibu agak curiga juga padaku “teman apa teman ?” sindirnya. “ya.. teman Ma” aku agak gagap juga menjawabnya.

Waktu dhuhur sudah tiba, aku segera mengambil air wudhu untuk shalat berjamaah di mesjid. Hari itu adalah hari yang berharga bagiku, karena pertama kali aku mengantar seseorang yang aku cintai. Setelah selesai shalat aku segera pulang dan mengeluarkan motor kesayanganku, “ Zal kamu gak kuliah ? kok pakai pakainan biasa?” ibuku bertanya, “ oh…enggak Ma, hari ini aku libur” jawabku, “ lalu mau kemana kamu kok udah rapih” tanya ibuku keheranan “ Biasalah Ma, aku ada perlu sebentar” aku menimpali walau sedikit agak gagap.

Jam menunjukkan pukul 12.30, alhamdulillah aku telah sampai di sekolah Cucu. Tak berapa lama kelihatan siswa-siswi di sekolah itu sudah pada pulang, dag… dig… dug … jantungku mulai berdetak, aliran darah mulai menderas, dan tubuh ini tersa tidak berpijak di bumi. Dari kejauhan terlihat Cucu dengan temannya sambil bercanda menuju ke arahku.
“Oh… ini Cu rupanya si akang teh” sahut temannya, walau aku lebih tua dari mereka, tapi rasanya aku agak malu juga waktu itu. “ Eh Cu .. gimana pulang sekarang “ aku memberanikan diri memulai pembicaraan, “ya sekarang aja kang” Cucu menimpali.

Kami pun bergegas meninggalkan sekolah tersebut sambil berpamitan pada teman-teman Cucu yang begitu familier. Di perjalanan aku berpikir lebih baik aku menyatakan cinta ini hari ini juga, karena kapan lagi aku punya kesempatan seperti ini. Di tenganh perjalanan aku sengaja menepikan motorku,
“Kang kok berhenti disini?” tanya Cucu keheranan,
“Oh… ya ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu “jawabku. “emangnya ada apa gitu ?” tanya Cucu dengan keheranan yang semakin bertambah.
Dengan sedikit gugup, dan tubuh yang melayang aku mencoba merangkai kata yang indah sambil diselingi dengan canda,” Begini Cu…akang teh suka sama Cucu” . Cucu yang putih bagai salju dengan jilbab warna putihnya, kelihatan memerah , “kang apa engga salah denger Cucu teh ? “ sahut Cucu dengan terbata-bata, “Engga kok Cu “ aku langsung menjawab dengan suara yang tegas. Dengan sedikit gemetar dan wajah yang memerah bagai bunga mawar, Cucu kemudian mengatakan sesuatu yang berarti bagi kehidupanku “ Cu…cu… juga suka sama a…kang”

Bumi terasa bergoncang dan awan menjadi mendung saat itu, cintaku diterima oleh sang pujaan. Mendenganr hal itu aku pun memberikan Cucu Cindramata yang tadi aku beli di swalayan. Kemudian aku mengantar Cucu pulang sampai depan rumahnya, “kang masuk dulu” Cucu mengajakku mampir ke rumahnya, “nanti aja Cu, soalnya aku harus membereskan tugas rumah yang begitu banyak” aku menimpali.

Perjalanan cinta pertama kami berjalan mulus, bak air yang mengalir. Setiap hari kami bertemu di madrasah dan menyempatkan diri untuk bercanda dan berbincang-bincang, jika ustadz Suryana belum datang.
Suatu sore aku memberanikan diri untuk berkunjung ke rumah Cucu, dengan sedikit gugup aku mengetuk pintu rumahnya, dag… dig… dug… rasanya jantungku berdetak amat kencang, seperti dalam mimpi yang dikejar anjing.
Drek…. Suara pintu terbuka, “eh kang Rizal, silahkan masuk kang “ sahut adik Cucu. Aku pun masuk kemudian duduk di sofa, sambil menunggu datanglah orang tua Cucu menghampiriku “ eh… Rizal, tunggu dulu yah Cucu nya lagi mandi dulu”, “oh engga apa-apa bu “ sahutku tersipu malu. Tak berapa lama Cucu muncul dari balik kamarnya, manis sekali kelihatannya sambil tersenyum dengan jilbab warna hijau. sungguh keadaan yang tak pernah aku bayangkan.
Seiring berjalanya waktu dan ilmu yang aku pelajari, pemikiran ku mulai berubah, terutama setel;ah aku sering pergi ke pengajian ustadz Syaiful yang cukup jauh dari rumahku. Aku mulai membatasi pergaulan dengan lawan jenis termasuk Cucu yang selama ini aku cintai. Aku jadi jarang ngobrol dan jarang berkunjung ke rumahnya dalam pikiran ku aku takut cintaku pada Cucu akan menjadikan sebuah maksiat kepada Allah SWT.

Ya… pikiranku mulai terbuka, kenapa Islam tidak membolehkan seseorang berpacaran atau berdua-duan sebelum menikah. Aku mencoba memberi pengertian pada Cucu bahwa aku jarang ngobrol dan berkunjung itu bukan karena aku bosan terhadapnya, tetapi karena aku baru sadar dan paham tentang larangan berpacaran pada agama Islam yang aku anut. Cucu mulai berontak dan tidak mempercayaiku, malah ia menganggap aku punya pacar baru. Sedih rasanya….orang yang aku cintai tidak memahami pada apa yang terjadi pada diriku selama ini.

Pada suatu hari aku berkunjung ke rumah Cucu, “assalamala’ikum “ sahutku sambil mengetuk pintu rumah Cucu. “wala’laikum salam “ terdengar suara ibunya Cucu menimpali. “eh Rizal, ayo masuk Zal dari tadi Cucu cemberut aja tuh…” kata ibu Cucu sambil tersenyum. Aku pun duduk di sofa depan seperti biasa dan tak berapa lama Cucu datang dengan muka cemberut, wajah yang sinis seolah tidak senang dengan kedatanganku, sungguh bak bumi dan langit perbedaan yang terjadi saat itu dengan masa kami dahulu “ Cu kenapa sih kok cemberut ?” sapaku, “ah.. ga apa-pa kok” Cucu menjawab dengan nada yang agak gusar. “Cu aku benar-benar sayang sama kamu, aku mohon kamu mengerti akan prinsipku saat ini “ aku berkata lirih seolah olah memelas pada Cucu, “kalau kamu emang sayang , kenapa setiap kita bertemu kamu suka tidak mau aku ajak ngobrol.. atau setiap kali aku minta antar kamu suka tidak bisa” kata Cucu dengan nada yang tinggi dan wajah yang memerah karena marah . Malu rasanya oleh orang tua Cucu yang duduk di ruang tengah.

“ Cu… bukan aku tidak sayang atau tidak mau, tapi aku ingin pacaran kita disesuaikan dengan ajaran Islam” jawabku dengan nada membujuk dengan kesedihan yang menyelimuti tubuhku, “ah ..kalau akang emang sudah ga suka ya… kita putus aja dan jadi sahabatan” dengan nada marah dan meninggi, kelihatan wajah yang begitu anggun berubah menjadi garang bagai singa yang sedang memangsa tangkapannya. Sedih, merana dan tak berdaya rasanya, orang yang aku cintai tidak bisa memahami prinsipku, “ Cu… kalau kamu ga percaya akan cintaku aku ingin menghadap pada orang tuamu” “untuk apa kamu pada orang tuaku?” tanya Cucu dengan nada yang tetap tinggi. “ aku ingin melamarmu dan kalau perlu aku siap untuk menikahimu” “Apa… menikah…?suara Cucu tinggi sambil mencibirkan bibirnya,”ga… aku… ga… mau menikah, aku masih ingin main bersama yang lain “sambung Cucu dengan nada kesal dan meledekku saat itu. “kalau begitu gimana dong hubungan kita “ tanyaku lirih dengan jiwa yang tak berdaya. “ya udah… kita sahabatan saja “ dengan nada gusar Cucu menimpali.

Hancur rasanya hati ini, bagi disambar petir di siang hari mendengar perkataan dari Cucu, sepertinya dunia ini tidak memihakkku. Aku pun permisi meninggalkan rumah Cucu dengan muka sedih, badanku terasa berat menerima kenyataan ini. Sampai di rumah aku bergegas ke kamarku, aku ambil bantal dan menangis tersedu-sedu, walaupun aku seorang laki-laki aku tak kuasa menahan kepiluan hati ini, aku menangis bukan karena putusnya cintaku, tapi aku menangis karena orang yang aku cintai selama ini tidak bisa memahami prinsipku saat ini.
Hari berganti hari, aku dan Cucu masih suka bertemu di madrasah. Teman-teman ku mulai curiga dengan hubunganku , “ Zal kamu putus ya sama Cucu “ Tanya Eri padaku “ Ya….Er aku putus, sedih rasanya…” jawabku dengan nada lirih, “udahlah toh pasti Allah SWT akan mengganti dengan yang lebih baik, kalau alasan kita putus karena Allah” kata Eri menghiburku. “ya mudah-mudahan aja” sambungku.
Waktu tak terasa begitu berlalu, aku masih bertemu dengan Cucu. Saat ini Cucu sudah kuliah di sebuah perguruan tinggi ternama di Bandung, setiap kali bertemu kami hanya tersenyum tanpa ada obrolan sedikitpun. Aku merasa malu jika aku memaksakan kehendakku.

Tiga tahun berlalu, dan aku saat ini sudah bekerja di sebuah perusahaan, tapi sampai detik ini aku belum mendapatkan pengganti Cucu. Aku teringat janjiku bahwa aku ga akan menikah sampai aku melihat Cucu menikah dengan yang lain sebagai bukti cintaku padanya. Puitis emang, tapi itulah kenyataan hidup yang harus aku jalani.
Tak berapa lama berselang aku mendengar Cucu akan menikah dengan laki-laki pujaannya. Sedih…. Senang… bercampur saat itu, aku pun memberanikan diri untuk datang ke pernikahannya dan menyampaikan selamat kepadanya.
Sejak saat itu aku pun mulai mencari pasangan hidup, dengan disertai doa dan dukungan dari teman-teman seperjuanganku, akhirnya… aku menemukan pasangan pengganti Cucu. Aku teringat perkataan Eri waktu aku putus dengan Cucu, bahwa jika kita putusnya karena Allah SWT insya Allah akan diganti dengan yang lebih baik. Aku pun mendapatkan pasangan yang begitu baik dan menerimaku apa adanya. Dia seorang gadis berjilbab yang sangat rapih, anggun, cantik dan lebih muda dari Cucu.
Baca Selengkapnya...

04 Agustus 2010

Surat Cinta Untuk Kakak

Desiran udara sejuk mulai menyusup halus, bintang – bintang masih bertaburan dengan sangat indah melewati detik-detik sepertiga malam. Sesekali ada pula ayam yang berkokok, bagai sebuah pengingat atau alarm yang telah Allah tetapkan untuk membangunkan hamba-Nya dan segera bersujud kepada-Nya. Katanya kalau ada ayam berkokok diantara waktu sepertiga malam, itu pertanda sang ayam melihat para malaikat turun ke langit dunia untuk mendo’akan orang – orang yang malamnya penuh cinta, orang – orang yang selalu rindu terbangun dari lelap tidurnya di antara detik-detik sepertiga malam dan kemudian sujud bermuhasabah. Wallahu’alam.
Sebagian orang sudah terbangun dini hari layaknya malam ini. Melepas satu per satu ikatan syaithan yang membelenggu pundak untuk tidak membiarkannya terbangun. Ya, seperti yang telah diriwayatkan bahwa syaithan memiliki 3 ikatan yang membelenggu pundak manusia setiap kali tidur. Dalam ikatan-ikatan itu syaithan membisikan “malam masih panjang, tidurlah kembali”, namun jika saja manusia terbangun dan ia tetap teguh maka ikatan pertama terlepas, kemudian jika manusia itu berwudhu maka ikatan kedua terlepas dan jika manusia itu sholat, maka terlepaslah ikatan yang ketiga. Alangkah nikmatnya dapat melepas semua ikatan-ikatan yang membelenggu itu, menghiasi catatan sepertiga malam dengan penuh cinta bersujud kepada Yang Maha Cinta.
“krek..krek..kreek…” gigi ghiza gemeretak seperti beradu antara satu gigi dengan gigi lainnya. Setiap kali tidur, dia seperti itu meski memang itu bukanlah secara sadar, tepatnya ghiza tidak menyadari giginya pada tiap kali tidur beradu dan berbunyi seperti itu. badannya mulai bergerak dan secara otomatis matanya ikut terbuka perlahan, ia langsung picingkan mata melihat jam Hello Kitty berwarna pink yang pernah dihadiahkan oleh sahabatnya ketika ia milad, jam itu menunjukan pukul 01.45 WIB. Ia terhanyut kembali dalam mimpi-mimpinya. Namun 30menit kemudian alarm dari handhonenya bergetar dan berdering perlahan dengan lantunan nasyid nantikanku dibatas waktu,  edcoustic. matanya masih ingin terpejam kembali, tetapi hatinya menginginkan ia tetap bangun membulatkan tekad melepas tiga ikatan yang membelenggu dan bersiap diri untuk bersujud dan bersyukur kepada Allah , Tuhan seru sekalian alam. Dengan cinta-Nya ia dapat terbangun kembali untuk menjalani apa yang telah Allah tetapkan untuknya dihari yang baru ini. Ia mantapkan hati untuk bangkit dari tempat tidurnya,  Alhamdulillahilladzii ahyanaa ba’da maa’amatanaa wailaihi nusuur.
Ghiza beranjak bangun dengan sesekali mengucek mata dengan punggung tangan kanannya. Ia sisir rambut panjang dan hitamnya yang terurai lalu mengikatnya dengan ikat rambut berwarna merah cerah, ia bergerak menuju almari yang berada di sudut kanan kamarnya untuk mengambil mukena, mukena yang telah terbalut sajadah dan berada didalam almari itu ia keluarkan dan di simpan di atas tempat tidur.
Perlahan pintu kamarnya ia buka, ghiza bergegas untuk berwudhu. Kamarnya berada diluar Rumah utama, memang rumahya di design dengan harus adanya ruangan terbuka, ya! kamar ghiza inilah yang berada diruang terbuka itu. selain ada kamar ghiza, ruang terbuka inipun dikelilingi oleh kamar Fadhil, Musholla keluarga, dapur dan dua kamar mandi. Rumahnya cukup luas sehingga rumah utama yang didalamnya terdapat ruang tamu, kamar orang tuanya, ruang TV dan perpustakaan atau sekaligus ruang kerja ayahnya terpisah dengan kamar ghiza sehingga ghiza dapat merasakan Hembusan angin yang terasa menyejukan hingga sejuknya sampai ke hati pada malam hari, terkadang juga ghiza sangat senang kalau turun hujan, ia bisa melihat rintikan air hujan itu dari kamar tercintanya ini.
Wuussss…. Angin malam berhembus dengan lembut, halus dan sangat sangat halus. Ghiza merasa angin itu membelainya, kemudian ia hirup panjang udara itu dengan perlahan. “ Ya Robby, sejuk sekali udara-Mu ini, menjernihkan setiap hati dan pikiran yang mungkin tengah gelisah. Otot-otot saraf yang meregang seolah kini terhanyut dalam ketenangan. Subhanallah… nikmat sekali ya Robb. Tak ada sekecilpun nikmat-Mu yang dapat kami dustakan” lirih ghiza dalam hati.
Ini selalu dirasakan sangat indah. Terlebih ghiza seperti biasanya sebelum pergi berwudhu ia sempatkan sejenak memandangi langit. Hal itu adalah yang paling ia sukai sejak kecil, “ kak, mungkin ngga ya ghiza bisa ke atas sana? Biar ghiza peluk bintang-bintang yang penuh cahaya itu. mereka sering ngedipin ghiza lho kalau ghiza lagi ngeliat mereka. Tu kan, coba kakak liat bintang yang itu!!! ngedipin ghiza kan tu kak” tutur ghiza sambil menunjuk kearah bintang yang dianggap mengedipinya, Fadhil yang saat itu masih kelas 4 SD hanya bisa tersenyum melihat tingkah adiknya. “ uhm…ghiza bisa kok ke sana, mau kakak anter ke sana, heum?”. “ waaah, iya kak? ghiza mau..ghiza mau…”.
Malam ini sangatlah cerah. Ghiza menutup kembali pintu kamarnya, ia beranjak ke ujung teras untuk melakukan hal yang paling ia sukai, melihat bintang-bintang dan rembulan. Seketika Matanya berbinar, ada sedikit air yang membasahi matanya yang kemudian mata itu seolah berkaca-kaca. Sungguh anugerah terindah Allah memberikannya mata. Dengan Mata inilah ia dapat melihat berjuta pesona tiada tara indahnya, dari mata inilah bibir dapat berucap tasbih menyucikan Nama-Nya, dari mata inilah hati merasakan takjub dan basah dengan rasa cinta. Cinta kepada Yang Maha mencintai keindahan.
Anggota tubuh ghiza telah terbasahi oleh dinginnya air wudhu. Ia bersegera menuju kamarnya kembali. Hanphonenya kembali bordering, ia lihat ternyata ada sebuah sms. Dengan agak penasaran ia buka sms itu. pesan singkat dari Fadhil, kakaknya
“Rajin sekali, adekku ni.
Uhm… kakak lega rasanya punya adek yang senang
mengukirkan cinta di sepertiga malam-Nya.
Selamat menikmati jamuan Allah, adekku!!!
Jangan lupa do’akan ayah bunda. ^-^”

Jemari ghiza seketika menari diatas keypad handhonenya

“iiih, dasar spionase!!! Jadi dari tadi kakak liatin ghiza dari mana?
Uhfftt…”

“hehe…
Maaf2, kakak pengen aja liat adek kakak
Yang td lagi tengadah ke langit sambil senyam senyum sendiri
ckckckckckckck”

Ghiza langsung mingkem setelah membaca sms itu, ia jadi malu sendiri. Dikiranya senyum-senyum sendiri tak ada orang yang melihat.
“euh, udah ih malu.( -_-               ‘ “

upz, iya2. Sudah lupakan saja!!!
Sekarang siap2 tu. Allah telah menunggumu
Mengetuk pintu ampunan-Nya.
Udah ya!!!
Assalamu’alaikum”

Ghiza tersenyum greget. Ternyata tadi mulai dari ghiza membuka pintu, berdiri diujung teras hingga selesai berwudhu dan kembali ke kamarnya diperhatikan oleh Fadhil dari balik kaca. Fadhil telah terbangun 15 menit lebih awal dari ghiza. Hal ini memang bukan asing lagi, karena mereka memang selalu mengingatkan dan membiasakan diri untuk bertahajud. Terkadang kalau ghiza sudah melampaui batas waktu yang seharusnya ia terbiasa bangun, fadhil langsung Misscalled ke handphonenya ghiza atau langsung mengetuk pintu kamarnya jika miscalled-nya Fadhil tak mempan juga. Meski sebenarnya sangatlah tidak tega kalau harus melihat adiknya yang masih mengantuk dan mungkin masih lelah harus terbangun. Tapi itu semua Fadhil lakukan demi yang terbaik. Fadhil tanamkan arti sebuah cinta pada adiknya ini dan Fadhil yakin bahwa apa yang dilakukannya untuk membuat ghiza bangun dimalam hari dan bertahajud adalah arti sebuah cinta. Cinta yang tak akan habis oleh masa, cinta yang akan menuntun pada sebuah keabadian dan cinta yang akan mengantarkan pada Yang menganugerahkan cinta.
Fadhil merasa dirinya lah yang bertanggungjawab membimbing satu-satunya adik yang dia sayangi. Selama ini ghiza juga merasa bahwa Fadhil lah yang benar-benar menyayanginya dengan sepenuh hati, Fadhil lah orang yang senantiasa mendengarkan curahan hatinya, Fadhil lah orang yang selalu menegarkan hatinya ketika dirasa rapuh, Fadhil lah yang mengenalkannya pada keindahan dan kesejatian cinta. Ghiza tak pernah merasakan punya keluarga selain Fadhil. Orang tuanya hanya dia anggap sebagai orang yang memenuhi materi dan kebutuhan fisiknya saja, tidak dengan hatinya dan tidak dengan jiwanya.
“kak, kapan ya ghiza bisa punya keluarga lengkap?” keluh ghiza d suatu hari,
“lho, kakak aja belum mikirin tu buat berkeluarga, Kamu masih sekolah gini udah mikirin itu?. wah…wah…wah…Kalah ya kakak sama kamu” jawab fadhil dengan polos tanpa tahu maksud perkataan adiknya.
“glekk, bukan itu kak!!! Ih, bukan bikin keluarga itu yang ghiza maksud…”.
“lah terus?” Fadhil penasaran, ternyata pemahamannya tadi salah.
“ ghiza ingin punya ibu, ghiza pingin punya ayah. Selama ini ghiza hanya punya kakak dan rasanya kayak anak yatim piatu”.
“eh…Astaghfirullah!!! Kamu ga boleh bilang kayak gitu”. Fadhil dengan sekejap mengarahkan pandangannya kearah ghiza yang tengah duduk disamping kirinya.
“ Nyatanya kita punya ayah, kita punya ibu. Mereka yang membesarkan kita Mereka yang mengurus kita sewaktu kita masih kecil dulu, mereka yang berjuang bekerja Untuk menyekolahkan kita. Ridhonya Allah ada pada Ridhonya mereka. Kamu tahu itu, Apa maksud kamu bahwa kita tak punya ayah dan ibu?”.
Sambung Fadhil yang masih tersentak kaget mendengar penuturan ghiza tadi, rasanya dia ingin marah. Dia merasa gagal membimbing adiknya dalam hal agama.
“kak, apa kakak sama seperti mereka? Apa kakak juga tak pernah ingin tahu apa yang ghiza rasakan? Iya, ghiza punya ayah dan ibu. Tapi mereka tak pernah menganggap Ghiza ada, mereka selalu sibuk dengan pekerjaan mereka mengumpulkan materi, Mereka tak pernah punya waktu untuk hati ghiza, mendengarkan curahan hati ghiza. Ghiza hanya ingin kebersamaan kak! Coba kakak ingat, apa pernah kita semua berkumpul bersama? Mungkin untuk sekedar makan bersama pun tak pernah kak. Ayah dan ibu pulang pergi tanpa kita tahu hingga kitapun tak pernah sempat mengecup tangan mereka.
Hiks….”
Hati Fadhil terasa sakit mendengarkan semua itu, dadanya naik turun menahan airmata yang hendak jatuh dari kelopak matanya. Dia baru mengetahui sebegitu sakitnya perasaan ghiza, dia tak bisa mengingkari bahwa perkataan ghiza memang benar. Dia sendiri merasakan hal itu, tapi setiap perasaan itu hadir, dia lebih bisa menepisnya jauh-jauh. Karena jika dibiarkan hanya akan membuatnya rapuh dan siapa yang akan menguatkan ghiza jika dirinya sendiri rapuh? Lelaki menggunakan logikanya sedang wanita selalu menggunakan perasaannya sehingga membuat lebih sensitif dan mudah menangis.
“sudahlah, adekku…”
Fadhil berusaha melegakan hati ghiza dan Ghiza pun berlabuh dibahu fadhil dengan linangan airmata.
“ayah dan ibu sesunggguhnya menyayangi kita, mereka hanya salah mengartikan kasih sayangnya untuk kita, mereka pikir bahwa materi bisa menyukupi semua yang kita butuhkan dan inginkan. Tenanglah, Allah bersama kita, mudah bagi-Nya untuk membolak balikan hati. Sekarang kita hanya bisa berdo’a agar ayah dan ibu lebih bisa memaknai kasih sayang untuk kita bukan dengan materi tetapi dengan hati. Ok?”.
Ghiza hanya mampu mengangguk tanpa berkata-kata.
“ayo, tersenyumlah! Adeknya kakak ga boleh cengeng. Nanti kalo adek kakak ni sedih terus… hmm… ga cantiklah, cepet tua”
“Uhm,, tahukah kau bahwa Malam yang gelap akan segera berlalu? karena sang surya akan meneranginya kembali pada waktu yang telah dijanjikan. Jadilah wanita cantik kepunyaan Allah! Yang melukis kekuatan lewat masalahnya, tersenyum ketika hati menangis, memberkati saat dihina, memesona karena mengampuni. Wanita cantik mengasihi tanpa pamrih dan berkuat dalam do’a juga pengharapan”.
Ghiza menatap mata fadhil lalu mengukirkan segurat senyum padanya.
“nah gitu dong! Itu baru adeknya kakak” fadhil memegang erat lengan kanan bagian atas ghiza, berusaha menegarkannya lalu mengecup ubun-ubunnya.
“jadilah wanita yang paling bahagia, adekku” lirih fadhil dalam hati. Butiran airmata cinta menetes begitu saja membasahi pipi dan hatinya.
Baca Selengkapnya...

06 Mei 2010

Wanita yang Ingin Menjadi Angin ( Part1: Asa yang Hilang)


teeeeeeeeeeeeeeeeeetttttt…………teeeeeeeeeeeeettt….
teeeeeeeeeeeeeeeeettttttt
Tepat jam 7.00 WIB, 3 kali bel itu dibunyikan, bel pertanda harus masuknya seluruh siswa sekolah ternama di bandung.
“Huuuuhhh…huuuuhhh..hhuuuuhh” hembusan nafasku yang tak karuan karena lari2 menuju gerbang masuk sekolah,” ayoooo cepat sha…….gerbang udah mau ditutup!!! “ gemertakku dalam hati sambil terus berlari dan greget. “Huuuhhh…hahhh…huuuhh….om dian...wait me…jangan dulu d tutuuuuuuuuuuuuuup……….ahhhh…sampai juga. Makasih Om,hehehe”  sahutku pada Om dian. “ yahhh…c neng, makanya brangkat k sekolahnya mesti shubuh neng, biar ga lari2 lagi, mending ni c Om yang jaga, lah kalo giliran jaganya Pa Abbas c neng bisa tambah ngos-ngosan disuruh ‘jalan bebek’ sampai lapang basket, ayo cepat masuk k kelas!” jawab Om dian sambil menasehati c neng aku, hehe..”yoi, makasih dah Om yang baik hati, hehehehe” ekspresiku yang Watados (Wajah Tanpa Dosa )sambil mengacungkan jempol padanya membuat Om dian tersenyum. Om dian adalah satpam di sekolahku, namanya Pak Dian Hadian tapi semua siswa lebih akrab dengan memanggilnya Om dian. Perawakannya tinggi namun kecil, kira2 usianya 35an lah. Beliau cukup baik dan mudah akrab ama siswa terutama ama aku yang paling dikenal olehnya karena sering terlambat, hoho… sedangkan pak abbas tadi yang dibilang oleh Om dian adalah wakasek kesiswaan yang pagi2 sering bikin siswa yang terlambat ‘jalan bebek’ hingga k lapangan basket sambil ngambilin sampah2 di depan jajaran kelas.
“assalamu’alaikum…” salamku terdengar seantero ruangan kelas X-3, kelas yang berukuran 9x8 itu dihuni oleh 40 siswa, itulah kelasku tercinta. “ wa’alaikum salam, deuuuuhhh c neng….meni kirang nyubuh dongkap teh, Kamana wae atuh? ( c neng kurang shubuh datangnya, kemana aja?)” sindir kang jami’at paturoji, sang Ketua dikelas kami.  “hehehehhe,,,,ampun, maklum atuh kang rumah c neng paling tebih ( jauh ),,he”. Aku jawab sindirannya dengan mantab sambil menuju tempat duduk ku yang paling depan di jajaran ke tiga dari meja guru. Aku duduk bersama erti, sahabat suka dukaku selama ini, tepatnya selama 5 bulan ini yang kami baru masuk k SMA. Kami berdua cukup aktif d kelas maupun d organisasi sekolah. Aku aktif d OSIS sebagai Sekretaris 2 dan Erti aktif di Majelis Perwakilan Kelas atau yang sering dikenal dengan MPK. Meskipun masih kelas X, aku dipercaya sebagai sekretaris 2, walaupun mungkin sering membuat kak riyandi sang sekretaris umum kesal karena aku masih canggung berada dalam level yang seharusnya jabatan itu dipegang oleh seniorku, apalagi aku sangat baru aktif disebuah organisasi siswa, kemampuanku belumlah layak sebenarnya untuk berada dibidang ini. Aku tidak terlalu pandai dalam hal kerapihan dan komputerisasi. Tapi apa boleh buat, Pembina menunjukku sebagai itu, aku hanya bisa berfikir, sedikit2 aku harus bisa membantu kak riyandi.
Kelas begitu riuh dengan suara siswa sebelum masuknya guru, sebagian dari mereka ada yang lari2 sambil bawa buku catatan teman lain ke mejanya, ehm.. ada juga yang berkumpul dalam satu meja dengan mengelilingi satu buku catatan dan menyalin apa yang tertuliis dalam buku catatan itu. Kenapa coba? Karena pastinya mereka belum mengerjakan PR fisika untuk hari ini. “ sha, PR udah? Eh…ty mau curhat ni” Tanya erti padaku yang baru saja duduk. “ Alhamdulillah udah dunk, secara….pelajaran pa Askur gitu lho. Heu…bade curhat naon atuh eceu ( mau curhat apa tuh)” jawabku. Kemudian erti membenahi cara duduknya menghadapku, nampaknya serius bener… “ gini lho, uhmmm sebenernya ty teh lagi suka sama seseorang, addduuhhh tapi cerita ga ya? uhm… pokoknya cowo tu baik, dia sering terliat k mesjid buat shalat berjama’ah, itu lho di mesjid sinar mukti belakang sekolah yang deket rumah pak komite dan depan rumahnya pak Lurah Selacau. And katanya dia juga ada sodaraan ama pa dudi, guru PAI ( Pendidikan Agama Islam ) kita, lah…semakin kagum ty sama dia, udah mah dia teh mirip banget ama anak kecil yang jago kungfu d film shaolin yang sama c boboho’ huuuuuuuaaaaaa…. Keren lah sha….kumaha atuh? (gmn?)”
“beuuuuhhh,,,dirimu teh kena syndrome VMJ ( Virus Merah Jambu )???? Heuheuheuheu. Emang ketemu dimana? Udah berani bilang dia baik, inget lho….taktik rayuan lelaki itu jauh lebih dahsyat, cie….sok keren kata2ku ini…heuheu” aku meraba jidat erti dan tertawa geli, pasalnya ni anak biasanya paling anti ama yang namanya ‘cowo’, cerita dulunya cih ni anak sering dibuat patah hati kalo suka ama ‘cowo’, tak pernah bisa mengungkapkan perasaannya dan lebih baik diam dari pada harus mengungkapkan. “ itu gera, yeuh….serius atuh sha, plis…help me,,,harus bagaimana? Ty ketemu dia pas malam minggu kemarin. Kan ty nginep di kostannya c wiwi bareng c ufey and c yayu trus c yayu ngenalin ty ama cowo itu. Namanya Azmi Syafrudin ihsan. Waahhhh namanya juga bagus, apalagi orangnya sha.  Jadi cowo itu tuh tetanggaan ama c yayu”  tungkas erti dengan sedikit greget padaku karena fikirnya aku malah bercanda dan menyepelekan perasaannya itu.
“ assalamu’alaikum….” Terdengar Suara laki – laki yang serentak mengagetkan aku dan erti serta anak2 sekelas yang langsung gempar mengambil posisi duduk mereka. Seorang laki-laki berbadan tegap, kurus, berkulit hitam manis yang kira2 usianya 28tahunan dan mempunyai tanda kehitam2an dijidatnya (yg katanya bekas sujud ) membuka pintu kelasku, beliau terlihat menenteng buku dan menyelendangkan tas hitam di pundak kirinya. Senyumnya selalu menebar bahagia, wajahnya serasa membuat hati menjadi sejuk dan adem. Memang benar kalau orang2 yang shalih itu selalu enak dipandang, setiap kata2nya adalah kata2 yang penuh arti dan menyejukkan. Itulah sosok yang kulihat dari pak Gugum, guru sosiologi yang hari selasa ini giliran beliaulah mengajar dikelasku pada jam pertama dan disusul oleh pelajaran fisika pada jam kedua nanti oleh pak askur.
Suasana kelas mendadak menjadi hening dan tenang. Kang jami’at langsung memimpin anak2 kelas berdo’a sebelum belajar, “ selesai….” Begitulah komando kang jami’at usai kami berdo’a. “ sha, nanti dilanjut lagi ceritanya ya..” erti berbisik ke telingaku. Aku hanya dapat mengangguk dan mengacungkan jempol sebagai tanda setuju. Ku buka tasku, ku keluarkan juga buku paket dan catatan sosiologi untuk siap mendengarkan dan memahami ilmu yang disharekan oleh pak Gugum kepada aku dan kawan2 sekelas. “ Ghiza Anif Zahrotun Ulya…?” Pa Gugum memanggilku, spontan ku angkat tangan kananku “ hadir,pak!”. “ owh, kamu toh sha pemilik nama lengkap ini. Uhm…nanti jam istirahat ke ruangan bapak ya!”. Dengan penuh Tanya dan heran dalam hati, ada apa ya? Kok d suruh k ruangannya? Ada yang salahkah denganku? “ Iya, Insya Allah pak!” sambungku masih dengan penasaran ada apa ya?
-----***-----
Kini ku cinta padanya, azmi
Aku mulai merindukan, azmi…
Saat hatiku ingin milikinya…ooohhh
Azmi ku panggil namanya, seorang pria dewasa
dia mentari menyinari..ooohhh…

erti melantunkan lagu sambil senyam senyum memakai kaos kakinya usai shalat zhuhur di mesjid sekolah dan bersegera pulang. “ ehhh…ssssttthhh….diteras mesjid nyanyi2, ndak boleh lah….nanti banyak orang yg akan keganggu dengan suaramu itu, heuheu…” ejekku kepadanya. “ yeey, biarpun…yg penting hati erti untuk akang azmi” erti menjawab dengan pandangan penuh harap dan berkhayal. Aku greget dan ku cubit pipi erti untuk menyadarkannya dari khayalan “iiiiihhhh….akang azmi lagi, VMJ mu mulai kumat dah… eh lagian lagu siapa tu? Lagu aneh…baru pertama kali dengernya juga”. “ itu lagu yg ty buat semalaman, haaaaahhhhh…..special buat akang azmi…..”. “ arrrrgggttthhh siapa sih Azmi syafrudin ihsan itu yang membuat dirimu setengaaaaah….” Huft….perkataanku terhenti dan tepatnya dipotong oleh erti, “eitz, enak saja…. Sudah ah…ty pulang. Dirimu hati2 dijalan ya beib, muuuaaachhh…assalamu’alaikum..” erti mencium pipiku dan berlalu dari hadapanku.
Hmmm,,,,rapat OSIS pada jam 14.00. perutku mulai bernyanyi “keroncongaaaaaaaaan” heu…kayak di iklan aja. “ nampaknya harus ke kantinnya A hendy ni,” niatku dalam hati dan melangkah kearah kantin. Kantin itu terletak sebelah selatan dari lapangan basket dan futsal, sehingga orang yang berada di kantinnya A hendy ini dapat menonton latihan ataupun pertandingan basket dan futsal langsung dari kantin. “ A, Mie Kocok Bandung 1 ya!!!” pesanku pada A hendy, pemilik kantin. “ ok, sip lah. Eh….kenapa belum pulang, sha?” Tanya A hendy. “ belum A, ada rapat OSIS nanti jam 14.00”. “oh…buat persiapan pertandingan basket sebandung raya itu ya sha?tadi anak2 OSIS kelas XI ngomongin itu d sini “ sambung istrinya A hendy yang juga lagi ikut jaga kantin ama suaminya. “ iya teh, buat persiapan itu. Tinggal nyari buat sponsornya aja, Insya Allah do’akan teh moga lancar deh eventnya nanti”. Lanjutku membenarkan pernyataan istri A hendy.
----***----
Ya Allah jika dia benar untukku
Dekatkanlah hatinya dengan hatiku
Jika dirinya bukan untukku
Damaikanlah hatiku dengan ketentuanmu….

Jam menunjukan pukul 02.13 WIB. Ku terbangun dengan alunan nada ‘permata yang dicari’nya Dehearty yang menyudahi mimpiku malam ini. “siapa yg telpon malam2 begini?” gumamku sambil mencoba buka mata perlahan meski masih terasa berat. Masih remang2 pandanganku, namun ku sudah bisa melhat tulisan d hpku siapa yg menelpon “ owh, Teh salma rupanya. Oke deh.. sha siap bangun teh” jawabku pada teh salma dan langsung ku matikan koneksi telponnya. Sudah 2 bulan ini aku aktif dan menjadi anggota Tahajud Call ( TC ) yang diselenggarakan oleh MQFM. Cara mengingatkan tahajudnya adalah dengan cara Misscalled orang yang akan kita ingatkan. Ini merupakan cara termudah dalam mengingatkan tahajud, meski jarak jauh dan mungkin belum pernah bertemu dengan orang yang mengingatkan tahajud kepada kita tetapi sungguh hal ini menjadi lebih indah dalam menjalin persaudaraan khususnya dikomunitas TC. Dan biasanya lagi TC mengadakan pengajian tiap bulan dibeberapa mesjid dibandung dan sekitarnya, disinilah waktu yang tepat untuk kita tahu siapa yang selalu mengingatkan kita kalau tahajud.
“wuuussshhhh….” Ku putar keran air, terasa sejuk ketika ku sentuh. Subhanallah…. Ni’mat sekali ku basuh seluruh anggota wudhuku. Sebelum ku memasuki kamarku kembali, beberapa menit ku sempatkan untuk memandangi bintang-bintang dan bulan didepan kamarku, rumahku punya ruang terbuka yang jika ku ingin lihat cerahnya hari ku tinggal lihat dari jendela begitupun ketika hujan turun. Sungguh saat-saat seperti inilah keni’matan dan ketenangan jiwa yang mengharu biru dapat ku rasakan, Its amazing….subhanallah….subhanallah…subhanallah…. tak berhenti ku bertasbih dengan semua yang telah diciptakan oleh Yang Maha Indah, Allah SWT.
Jam 3.00 WIB ku tetap terbangun dan tidak berniat untuk tidur lagi, lebih baik ku sempatkan untuk belajar. Namun disela2 itu, aku teringat lagi curhatan erti dan icha 2 minggu yang lalu. Erti yang begitu ‘tergila2’ oleh sosok Azmi Syafrudin Ihsan dan icha sahabatku yang juga sedang merasakan hal yang sama dengan erti dan entah pada siapanya icha masih belum cerita tentang hal itu, katanya sih ingin buat kejutan ‘surprise…’. Mereka membuat aku geli mendengarnya. 2 sahabatku yang sedang terkena syndrome VMJ alias Virus Merah Jambu. Bukannya aku anti dengan rasa itu, tapi sesungguhnya akupun gadis normal, punya rasa yang sama dengan mereka saat ini, hanya saja aku belum siap dan berani untuk mengatakannya atau hanya dalam sekedar curhat dengan erti dan icha.  “ jika belum siap, Cintailah ia dalam diam” kata yang mendalam bagiku yang pernah ku baca di status sahabat Facebookku. Kata2 itu mengingatkan aku pada diriku sendiri. Ya, tak ku pungkiri, 2 tahun lamanya ku menanti seorang ‘ikhwan’ yang tak kunjung datang. Cie….ekhem…batttttuk. heuheu. 2tahun yang lalu bermula kisahnya. Aku adalah gadis yang paling takut syndrome VMJ, entahlah….dulu aku sangat tidak mau tau tentang apa itu VMJ. Saat itu, kakakku baru pulang sekolah, tak seperti biasanya dia pulang bersama seorang teman untuk menginap dirumah. Temannya itu kata kakakku sih merupakan santri dari Ponpes Al-Basyariah Bandung. Ketika orang tuaku menanyakannya, teman kakakku itu akhirnya memperkenalkan dirinya kepada kedua orang tuaku, sungguh…ku lihat dia bukan laki2 biasa. Dia ternyata pemalu, apalagi saat memperkenalkan diri kepadaku. Dia hanya menangkupkan kedua tangannya tanpa menyentuhku sambil menundukkan pandangan, “saya, Rangga Muhammad Syahid. Panggil saja saya angga atau syahid”. Stttttthhh….ada 1 kesejukan ketika ku mendengarnya berbicara “Rangga Muhammad Syahid” ku mengulang namanya dalam hati. Pandangannya yang tertunduk membuatku sangat2 malu hingga akhirnya ku tundukkan pula pandanganku kepadanya, dengan cara yang sama ku kenalkan pula diriku padanya, “ Ghiza Anif Zahrotun Ulya, akang bisa panggil saya dik sha”. Setelah itu kami saling berlalu dengan aktifitas masing2.
Ku kembali ke kamarku dengan perasaan yang tak menentu, berbunga2 namun tak tau apa sebabnya. Karena hadirnya kang rangga kah dirumahku? Ah…apa arti perasaan ini?. Ku coba kendalikan hatiku kembali, ku berniat putar lagu2 nasyid untuk membuat jiwaku sadar kembali, namun sayup2 ku dengar
Ya Allah, Ya Tuhanku…
andai Kau takdirkan dia untukku menjadi teman arungi hidup ini,
satukan hatiku hatinya
Amanahkan bahagia Kemesraan selamanya…

“kok, ada lagu STAR5 ya? Hmm…punya siapa ni? Pas banget, kan sha yang lagi pengen punya kaset ni”. Ku coba mencari sumber dari mana arah lagu itu. “uhm…??? Dari kamar kakak sha? Kok bisa ya kakak sha nyetel lagu nasyid? Hmm, apa punya….ehm…aha….kang rangga yang punya. Ya! itu pasti, mana mungkin kakak sha punya kaset ini. Waaaahhh….kang rangga kok sama ya sama sha…hohoho…apa ini pertanda..????sttttttthhhh….tidak boleh berkhayal, sudahlah” Malaikat dan Setan seolah2 bertarung dijiwaku, kenapa coba sempat2nya aku berkhayal seperti itu.
Keesokan harinya, seperti biasa ku langsung aktif didapur untuk siapkan sarapan. Namun, aku tak tau sama sekali kang rangga pamit pulang dalam keadaan hari masih shubuh, maklum katanya dia harus cepat pulang karena harus mengantar kakaknya ke Bandara Soekarno-Hatta yang akan terbang ke kairo melanjutkan study disana. Kang rangga pulang tanpa aku tahu, aku hanya baru tahu saat mamah mengatakan kang rangga sudah pulang karena harus mengantar kakaknya tadi. Huft… tak tau juga kenapa, ada rasa sedih dihatiku, ada rasa yang baru saja hinggap namun sudah kembali tiada. “ Sha, sini deh!” ajak kakak ku sambil melambaikan tangannya pertanda aku harus ikuti dia ke kamarnya. “ ada apow, kakake?” tanyaku heran. “ nih,” kakakku mengasongkan sebuah kaset yang covernya para personil ‘STAR5’ group Nasyid yang terdiri dari 5 vokalis gabungan munsyid2 Bandung. “ Lho? Punya siapa?” aku masih heran. “ Nih, dari c angga, buat sha katanya. Tadi waktu dia pamit pulang sama kakak, dia titip pesan juga buat sha. Katanya gini ‘maaf tidak pamitan ama dik sha, sebenarnya angga suka ama adikmu,kang! (kang rangga memanggil akang pada kakakku), tapi angga tak ingin membuat janji, karena keluarga angga menuntut angga untuk ikut melanjutkan study seperti kakak angga sehingga kemungkinan jauh untuk saling menanti. Angga titipkan salam hangat buat dik sha, dan tolong berikan kaset ini untuknya. Jika Allah menghendaki angga dan dik sha, Insya Allah angga akan datang untuk dia dan mengambil kaset ini kembali. Namun jika tidak, simpan dan jagalah kaset ini baik2 sebagai kenang2an dari seorang ‘ikhwan’ yang menyukainya, makasih ya kang’. Noh…dia bilang kayak gitu, hahahaha…ditaksir ‘ikhwan’ euy!!!” kakak ku menceritakan semua dan berlalu dari hadapanku sambil tertawa.
Ya Allah jika dia benar untukku
Dekatkanlah hatinya dengan hatiku
Jika dirinya bukan untukku
Damaikanlah hatiku dengan ketentuanmu….

Handphoneku kembali berdering, “siapa yang telepon jam segini?uhm biarkanlah…” aku tak pedulikan handphoneku, fikiranku masih berada dalam 2 tahun yang lalu. Dengan backsound DeHearty, ku memantapkan bahwa Allah yang mengatur segalanya. Ya, semua akan indah pada waktunya, “ jika memang sayang sama dia, sayangilah dia karena Allah, Sha!” itulah nasehat pak Gugum ketika 2 minggu yang lalu menyuruhku ke ruangannya untuk merencanakan program bedah buku bersama anak2 OSIS dan Forum kajian remaja Islam, saat itu juga aku malah curhat hingga akhirnya aku ceritakan semua tentang rasa ini pada pak Gugum
Ya Allah jika dia benar untukku
Dekatkanlah hatinya dengan hatiku
Jika dirinya bukan untukku
Damaikanlah hatiku dengan ketentuanmu….
Handphoneku terus2an berdering dan membuatku harus kembali ke alam nyata dan meninggalkan lamunan kisah lalu, hingga aku kesal dan terpaksa mengangkatnya. “ hoh? Erty? Ngapain dia telpon jam segini?. ‘Hallo, Assalamu’alaikum, ado apow beib? Kurang shubuh kau telpon,” sindirku menjawab telpon erti. “ wa’alaikum salam, hiks…hiks… sha…..hiks…hiks…hiks….” terdengar tangisan diseberang telpon, “ lho, kok nangis? Dirimu kunaon ( kenapa )?shubuh2 telpon sembari nangis? Kenapa sih? Ayo..ceritalah!!!” ada kekhawatiran yang tiba2 muncul ada apa ya dengan c beibku ini?. “hiks…hiks….sha, ternyata selama ini aku salah menilai c dia, c azmi. Dia diam2 udah jadian… dia udah punya pacar. Dan… tragisnya lagi, dia tu jadiannya sama icha,hiks…hiks…” lirih erti. Ku coba mengerti dan berempati, erti menangis tak karuan, cintanya yang mendalam membuat dia sangat kecewa. “ huh, kan waktu awal sha bilang ‘hati2, taktik rayuan lelaki itu lebih dahsyat’ tapi dirimu tidak percaya, lah sekarang…sudahlah…sini menangislah dibahuku. you are not alone, I’m here with you, heu. Sudahlah beib, emang belum saatnya c kang azmi itu ditakdirkan untukmu. Percayalah semua akan indah pada waktunya. Kalau memang tidak ditakdirkan, ya berharaplah ada yang lebih baik dari dia. Huokey!!! ‘jangan bersedih oh kawanku, aku masih ada disini, semua pasti kan berlalu..aku kan selalu bersamamu!!! Eitz, 1 lagi, icha lagian tak tau kan dirimu suka pada azmi? Ya, lebih baiknya bersikap biasa2 saja pada icha, icha punya perasaan yang sama denganmu pada azmi. Jika dirimu kecewa, biarkanlah icha bahagia. Jangan sampai hubungan persahabatan kita retak hanya karena seorang laki2. Okok!!!”. Aku mencoba menghibur erti sebisanya. “ haahhh, ASA telah hilang dariku sha, ASA2….( Azmi SyAfrudin )”
“ASA ( Azmi SyAfrudin ) telah hilang dariku
Tak lagi engkau disini, awan kini telah memendung
Lukiskan Sedihku, Lirihkan hatiku
Dia bukan milikku…”

Ku dengar lirihan lagu dengan petikan gitar dari seberang telpon, huh…asa yang hilang…
Baca Selengkapnya...

13 Desember 2009

Perjalanan Nanda

Shubuh sekali nanda terbangun oleh lantunan adzan yang seolah membelai lembut hatinya tuk terperanjat menghamba dan bermuhasabah. karena tiada keni'matan yang paling lezat selain menagis dan berkhalwat dengan Dzat yang maha Pengampun. baru saja dia membuka pintu kamar untuk berwudhu rasanya berat untuk melangkah karena udara begitu sangat dinginnya. namun tak ada pantangan yang berarti untuk mengurungkan niat berwudhu, karena niat kuat karena Allah dapat mengalahkan segala rintangan. perlahan diputar keran dan berwudhulah dia. sejuk....hingga meresap ke dalam bathinnya, melepas beban, membeningkan pikiran juga kelelahan yang telah menyusutkan energinya tadi malam. hmmm....teringat kembali peristiwa semalam dalam pikirannya, ah...memang indah semua kepedihan jika bersabar dan tak putus asa dari rahmat Allah. malam itu nanda pulang larut malam dari perkuliahannya dibandung, seharian dia harus mengikuti perkuliahan yang telah terlewatkannya minggu lalu, sehingga dia harus mengisinya dengan hari yang lain yaitu hari kemarin. belum lagi tugas yang menumpuk, membuat otaknya begitu penat. "Ya Allah...bantu hamba dan beri kemudahan" gumam dihatinya. ketika malam itu dia beranjak akan pulang, lama sekali menunggu bis jurusan ciburuy-bandung diterminal alun - alun. jarang memang bis itu lewat tapi itu adalah bis yang kan mengantarkannya pulang. jam menunjukan pukul 9 malam.

para pengamen jalanan telah memenuhi pinggiran toko dan menghamparkan lembaran - lembaran koran untuk alas mereka tidur. hal itu membuat hati nanda terenyuh, betapa dirinya harus bersyukur bahwa kehidupan secara ekonominya masih tercukupi, meski sederhana. semakin terkoyak hatinya betapa selama ini dia tak menyadari hal itu. Bis yang dia tunggu tak kunjung datang, diterminalpun tinggal hanya beberapa orang yang berlalu lalang, mereka adalah para pedangang asongan yang hendak pulang juga. tiba-tiba ada bapak paruh baya yang menyapanya sambil berlalu "neng, lagi nunggu bis ya? jurusan mana? sudah malam -malam begini biasanya bis sudah jarang ada yang lewat". dengan sontak nanda sedikit kaget " o ya,pa. saya nunggu bis yang ke ciburuy. hmm....", nanda menjawab sambil berpikir dia harus bagaimana. bapak2 itu terus berjalan tanpa mengiraukan jawaban nanda. nanda mulai bingung, dia harus segera pulang karena tugas buat hari esok belum dia selesaikan. " Ya Allah...hamba harus bagaimana? tolong hamba ya Robby" harapnya dalam hati. dengan kuat dia yakin Allah pasti akan membantu hamba-Nya, karena dengan keyakinan itulah hatinya menjadi tenang. sepuluh menit telah terlewat, dan tiada bis yang lewat pula. nanda memutuskan untuk berjalan hingga pasar andir, pasar yang ada dipusat kota bandung yang kira2 jaraknya 2KM dari terminal alun - alun. biasanya masih banyak angkot yang dapat mengantarnya pulang meski hanya sampai wilayah cimahi dan dari situ nanda bisa sedikit berjalan untuk sampai dirumahnya. nanda terus berjalan menyusuri jalanan yang mulai gelap pekat, matanya tetap waspada dan hatinya berdzikir. ada sedikit masalah yang membuat hatinya bergetar, nanda harus melewati stopan dimana disana ada 2orang preman yang sempoyongan memegang botol yang berisi minuman keras, tampaknya mereka sudah dibuat mabuk oleh minuman haram itu. berdegup kencang jantungnya, takut namun harus tetap tenang, " Ya Allah...selamatkan hamba",,,nanda terus berdo'a. preman itu mendekatinya....dan salah satu dari mereka berkata " waahh...sendirian aja atuh,neng?sini sama Aa aja sayang!!!". huuuftttt nanda tersentak kaget, mukanya mulai pucat. mendekat...mendekat...dan mendekat..."preman itu semakin dekat.... harus bagaimana ini???" nanda semakin resah. tak ada satupun angkot atau bis yang lewat. adapun yang lewat hanyalah mobil-mobil pribadi dan sebagian lagi kendaraan bermotor roda 2.

nanda terus berjalan dan kali ini langkah kakinya semakin cepat, nanda tak berani mengangkat wajahnya melihat kedua preman itu karena mereka mengikuti jejak langkah nanda. mereka kini dibelakang nanda. nanda siap berteriak jika terjadi sesuatu, tapi apakah ada yang mau mendengarnya?ahhhh...nanda pasrah setelah itu. setelah menyusuri jauh dari teminal napak ada bis yang berhenti distopan yang tadi dilewati nanda. nanda berharap itu adalah bis yang akan melewati cimahi, kedua preman masih berada dibelakangnya. tanpa nanda sadari mereka tengan memegang pisau, entah buat apa itu.

nanda tetap yakin akan pertolongan Allah. Rasanya ingin sekali nanda menangis saat itu, tapi itu tak akan membuat dirinya terlepas dari kedua preman tersebut. " neng sayang, sini...jangan lari...sini yu...anterin sama Aa", salah satu preman melontarkan kata2 itu pada nanda. nanda tak hiraukan. " sini atuh neng, ama kita berdua aja!" tanggap salah satunya lagi. mereka menyusul langkah nanda dan.......uppppppppphhh....satu colekan hinggap ditangan kanan nanda. nanda semakin tertunduk dan berharap bis yang distopan tadi cepat berjalan menujunya. wuuusszzzzhhh....suara bis full AC saat pintunya terbuka, dengan cepat nanda membalikkan badannya dan sinar lampu depan bis itu menyilaukan mata nanda dan kedua preman yang membuat perhatian preman kepadanya teralihkan. tak berfikir panjang nanda melihat tulisan jurusan bis tersebut dan ternyata itu adalah bis yang hanya bisa mengantarkannya hingga 5Km dari pasar andir. nanda langsung mengacungkan tangan dan loncat menaiki tangga dipintu bis. kedua preman masih ingin mengejarnya, namun supir bis langsung menutup pintu bisnya tanpa menghiraukan preman itu karena mereka tahu itu akan membahayakan penumpangnya apalagi mereka membawa senjata tajam (pisau). ada rasa lega dihati nanda dan ucap syukur yang tiada habis kepada-Nya. Dia lah yang maha Melindungi dan Dia pula yang menyelamatkan nanda dari kejaran preman tersebut. tiada yang kebetulan bis itu melintas kecuali berdasarkan kehendak-Nya.

nanda duduk dan menenangkan segala ketakutannya tadi. kemudian terdengarlah obrolan supir dengan kondekturnya mengingat telah ada korban asusila oleh kedua preman tadi. nanda hanya tersenyum dan lega. malam itu adalah perjalanan yang begitu panjang bagi nanda, mengungkap sebuah perjuangan kehidupannya. Kumandang Iqomat menyadarkan nanda dari lamunannya, dia bersegera membentangkan sajadah dan berbalutkan mukena kemudian dia terhanyut dalam muhasabah.
Baca Selengkapnya...

Jika saja bukan karena keridhaan-Mu, Apa yang dapat dilakukan oleh manusia yang seperti debu ini dengan Cinta-Mu? #Izza Rupaida Febriani#